-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dinkes Lotim Siapkan Makanan Terapi untuk 183 Balita Gizi Buruk

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 08.58 WIB Last Updated 2026-10-17T00:58:14Z
Sosialisasi RUTF di Dinas Kesehatan Lotim. Foto: istimewa 




LOMBOK TIMUR, LokalNews.id — Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB), menyiapkan distribusi makanan terapi siap saji atau Ready-to-Use Therapeutic Food (RUTF) untuk menangani balita gizi buruk melalui layanan rawat jalan pada 2026.


Ketua Tim Kerja Gizi Dikes Lotim, Hairul Hadi, mengatakan pemerintah pusat kembali mendukung penyediaan logistik RUTF bagi Lotim pada tahun ini. Program serupa telah dilaksanakan pada 2025.


“Untuk tahun 2025, alokasi dari kementerian hanya diberikan kepada tiga kabupaten/kota di NTB, yaitu Kota Bima, Kota Mataram, dan Lombok Timur,” kata Hairul, kepada media tidak lama ini. 


RUTF, merupakan makanan terapi padat gizi yang digunakan dalam penanganan balita gizi buruk tanpa komplikasi medis dan memenuhi kriteria perawatan rawat jalan. Sementara itu, balita yang membutuhkan penanganan lebih lanjut harus mendapatkan perawatan sesuai kondisi medisnya.


Hairul menjelaskan, satu bungkus RUTF memiliki kandungan energi yang setara dengan dua piring nasi. Pemberian makanan terapi tersebut diharapkan membantu pemulihan status gizi balita sesuai kebutuhan dan hasil pemantauan tenaga kesehatan.


Untuk memperkuat pelaksanaan program, Dikes Lotim menggelar orientasi tata laksana gizi buruk dengan pendekatan komunikasi antarpribadi (KAP) pada Rabu (14/10). Kegiatan itu diikuti 36 tenaga pelaksana gizi dari puskesmas di Lotim.


Menurut Hairul, logistik RUTF untuk 2026 diperkirakan tiba pada awal November. Setelah diterima, makanan terapi tersebut akan didistribusikan ke 36 puskesmas berdasarkan kebutuhan dan jumlah kasus yang telah diverifikasi.


“Distribusinya akan disesuaikan dengan permintaan puskesmas dan kasus yang sudah dikonfirmasi,” ujarnya.


Berdasarkan data pelaporan melalui sistem informasi gizi, terdapat sekitar 183 balita gizi buruk di Lotim. Data tersebut menjadi acuan pengajuan kebutuhan RUTF kepada kementerian. Namun, jumlah kasus masih memerlukan verifikasi dan validasi lebih lanjut di tingkat lapangan.


Hairul juga menjelaskan, perbedaan antara gizi buruk dan stunting. Gizi buruk dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, sedangkan stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis yang berkaitan dengan kekurangan gizi dalam jangka panjang.


Ia berharap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat mendukung perbaikan pemenuhan gizi masyarakat, terutama bagi ibu hamil, balita, dan ibu menyusui. Meski demikian, penanganan masalah gizi tetap perlu mengikuti pedoman teknis dan kebutuhan masing-masing kelompok sasaran.


“Tentu harapan kita, MBG dapat melengkapi perbaikan gizi melalui pemenuhan konsumsi makanan bergizi bagi kelompok sasaran di tingkat masyarakat,” kata dia. (LN) 
×
Berita Terbaru Update