![]() |
| Puluhan masyarakat di Wilayah Rumbuk, Kecamatan Sakra, menunggu kedatangan gas LPG di pangkalan, Selasa (7/4). Foto/istimewa |
Lokalnews.id — Kelangkaan LPG 3 kilogram alias gas melon, masih jadi teka-teki di Kabupaten Lombok Timur. Di atas kertas, pasokan disebut bukan hanya cukup, tapi berlebih.
Ketua Satgas LPG Lombok Timur, Muhammad Hairi, menyebut distribusi gas subsidi itu telah mencapai sekitar 10,1 juta tabung. Angka ini bahkan melampaui jumlah penduduk.
“Secara teori, satu orang bisa mendapat hingga tiga tabung. Artinya stok seharusnya aman,” kata Hairi saat operasi pasar di Desa Pengadangan, Selasa (7/4) kemarin.
Data tersebut berasal dari alokasi sekitar 30.541 metrik ton LPG yang jika dikonversi setara lebih dari 10 juta tabung 3 kg. Pemerintah daerah juga sudah menambah pasokan saat momentum Lebaran.
Selama enam hari Idulfitri, tambahan distribusi mencapai 17.800 tabung. Disusul 35.000 tabung pada H+7 dan 24.450 tabung berikutnya. Total pasokan pun menembus sekitar 10,24 juta tabung—namun kelangkaan tetap terjadi.
Ironisnya, pemerintah daerah kembali mengajukan tambahan 15.000 tabung. Usulan itu sudah diteken bupati dan kini masih berproses.
Di tengah angka distribusi yang terkesan “banjir”, realitas di lapangan justru berkebalikan. LPG 3 kg masih sulit didapat, terutama saat permintaan meningkat seperti Lebaran.
Satgas kini mengalihkan fokus pada pengawasan untuk mengurai dugaan masalah dalam distribusi.
“Kami akan telusuri di mana letak benang kusutnya. Dengan distribusi sebesar itu, seharusnya tidak ada kelangkaan,” ujar Hairi.
