![]() |
| Pemkab Lotim Genjot Hilirisasi Porang hingga Kelapa. Foto : istimewa |
Lokalnews.id — Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim) mulai memacu pengembangan industri berbasis potensi lokal melalui hilirisasi komoditas unggulan, penguatan desa berdaya, hingga pengendalian inflasi pangan.
Hal itu mengemuka dalam audiensi antara Bupati Lombok Timur Haerul Warisin bersama jajaran Pemerintah Provinsi NTB dan Perum Bulog di ruang rapat bupati, Selasa.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati Haerul Warisin menyebut komoditas porang menjadi salah satu sektor yang dinilai paling potensial dikembangkan di Lombok Timur. Menurut dia, harga porang saat ini mencapai Rp10.200 per kilogram, bahkan melampaui harga acuan yang ditetapkan Bulog.
“Porang menjadi salah satu andalan daerah karena perawatannya relatif mudah dan masa panennya fleksibel,” kata Haerul.
Ia menjelaskan, produksi porang di Lombok Timur dapat mencapai 50 hingga 60 ton per hari, mulai dari umbi hingga diolah menjadi tepung. Pemerintah daerah, kata dia, juga terus melakukan pengawasan terhadap pengembangan komoditas tersebut.
Selain porang, Pemkab Lombok Timur juga membuka peluang investasi di sektor perkebunan kelapa. Haerul mengakui sebagian besar lahan perkebunan masyarakat ditanami kelapa sehingga dinilai potensial untuk dikembangkan melalui kerja sama dengan investor.
Di sektor pertanian, pemerintah daerah turut menaruh perhatian terhadap pengendalian inflasi, terutama untuk komoditas cabai dan sayuran. Pemkab mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan pangan harian.
Sebelumnya, pemerintah daerah bahkan sempat mendatangkan pasokan cabai dari Sulawesi untuk menekan lonjakan harga di pasar.
Pemkab Lombok Timur juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,5 miliar untuk pembangunan greenhouse guna meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian NTB Lalu Wiranata mengatakan terdapat sekitar 40 desa di NTB yang masuk program desa berdaya. Dari jumlah tersebut, tujuh desa berada di Lombok Timur, yakni Tetebatu, Sakra, Pijot, Pringgabaya Utara, Sembalun Bumbung, Pesanggrahan, dan Lendang Nangka Utara.
Program tersebut difokuskan untuk desa-desa dengan kategori miskin ekstrem melalui bantuan stimulan dan penguatan ekonomi lokal.
Menurut Wiranata, Lombok Timur juga memiliki potensi hilirisasi yang besar dengan lebih dari 30 sektor yang mulai dikembangkan. Namun, sebagian potensi itu dinilai belum tergarap optimal.
Ia juga mengungkapkan adanya ketertarikan investor asal Malaysia untuk pengembangan komoditas kelapa di Lombok Timur.
Di sisi lain, Wakil Pimpinan Wilayah Bulog NTB Rizal menyatakan kesiapan Bulog mendukung program ketahanan pangan daerah, termasuk penyediaan beras dan operasi pangan murah di tujuh desa berdaya.
Dalam audiensi terpisah pada hari yang sama, Bupati Haerul juga menerima rombongan Universitas Islam Negeri Mataram yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Partisipatif (KKP).
Sebanyak 754 mahasiswa UIN Mataram dijadwalkan diterjunkan ke 58 desa di lima kecamatan, yakni Jerowaru, Keruak, Sakra, Sakra Barat, dan Sakra Timur.
Haerul berharap para mahasiswa dapat membantu meningkatkan literasi digital masyarakat desa, termasuk mendampingi layanan BPJS dan pembayaran pajak digital.
Menurut dia, peningkatan kemampuan digital masyarakat penting untuk memperbaiki layanan publik sekaligus menekan potensi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).
