![]() |
| Salah seorang kader asal Lotim, meraih juara satu kategori kader berprestasi bidang kesehatan tingkat Provinsi NTB tahun 2026. Foto : istimewa |
LOMBOK TIMUR, LoklaNews.id - Kader kesehatan menjadi garda terdepan dalam membantu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Namun, kesejahteraan para kader di tingkat desa masih menjadi perhatian karena imbalan yang diterima dinilai belum sebanding dengan pengabdian mereka.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi, mengatakan peran kader saat ini tidak hanya berkaitan dengan sektor kesehatan. Kader juga terlibat dalam pelayanan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), salah satunya bidang kesehatan.
"Sesungguhnya kader itu memang garda terdepan dalam melayani masyarakat. Sekarang kader tidak hanya di bidang kesehatan, tetapi ada enam SPM, salah satunya kesehatan," kata Aries, tidak lama ini.
Terkait kesejahteraan kader, Dinas Kesehatan Lombok Timur (Lotim) terus berkoordinasi dengan pemerintah desa. Menurut Aries, sudah terdapat peraturan bupati (Perbup) yang mengatur angka minimal penghargaan atau insentif yang diberikan pemerintah desa kepada kader.
Meski demikian, nominal yang diterima kader masih cukup bervariasi di masing-masing desa.
"Sudah ada perbup yang menetapkan angka minimal reward yang diberikan oleh desa kepada setiap kader. Tentu harapannya walaupun dari sisi nominal masih sangat bervariasi," ujarnya.
Aries mengapresiasi para kader yang tetap menjalankan tugasnya dengan semangat kerelawanan. Menurutnya, menjadi kader membutuhkan jiwa volunteer yang kuat karena imbalan material yang diterima belum sebanding dengan beban pengabdian.
"Saya selalu katakan, untuk menjadi seorang kader itu memang harus memiliki jiwa volunteer yang luar biasa. Kalau tidak, pasti tidak sanggup menjadi seorang kader," katanya.
Ia menilai jika dibandingkan dengan upah minimum, imbalan yang diterima kader saat ini masih belum layak. Kendati demikian, pemerintah tetap berupaya memperhatikan dan memperjuangkan peningkatan kesejahteraan mereka.
"Kalau kita nilai dari sisi material, apa yang didapatkan tentu tidak layak kalau kita bandingkan dengan upah minimum. Tapi saya meyakini dengan keikhlasan para kader kita, membuka jalan rezeki yang lain juga bagi mereka," tutur Aries.
Aries menegaskan, penghargaan terhadap jiwa kerelawanan kader bukan berarti pemerintah mengabaikan aspek kesejahteraan. Menurutnya, peningkatan dukungan terhadap kader akan terus diperjuangkan melalui koordinasi dengan pemerintah desa.
"Ini bukan berarti kita tidak memperhatikan mereka. Tetap, insyaallah akan tetap diperjuangkan untuk jalan yang baik," pungkasnya. (LN)
