-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pasca-Kebakaran, Warga Desa Adat Sade Mulai Bangkit Lewat Tenun dan Gotong Royong

Senin, 14 September 2026 | 14.02 WIB Last Updated 2026-09-14T06:03:10Z

 

Pembagian Sembako oleh relawan Nusantara Foto Abdul Gani

Lokalnews.id Lombok Tengah Lebih dari tiga pekan setelah kebakaran melanda Desa Adat Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, warga mulai memasuki fase pemulihan. Di tengah reruntuhan rumah adat dan fasilitas publik, aktivitas menenun kembali menjadi salah satu tanda kehidupan yang perlahan bangkit.


Kebakaran yang terjadi pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, sekitar pukul 20.30 WITA, menghanguskan sedikitnya 152 bangunan dan fasilitas publik. Rumah adat, masjid, berugak, lumbung, artshop, serta berbagai perlengkapan kebudayaan turut terdampak.


Peristiwa tersebut menyebabkan sekitar 75 kepala keluarga atau kurang lebih 300 jiwa kehilangan tempat tinggal maupun sumber penghidupan. Penyebab kebakaran masih dalam penelusuran pihak berwenang.


Kini, setelah melewati masa tanggap darurat, warga mulai membersihkan puing dan menata kembali kehidupan mereka. Namun, pemulihan Sade tidak hanya menyangkut pembangunan fisik. Sumber ekonomi keluarga, pendidikan anak, serta keberlanjutan kebudayaan juga menjadi kebutuhan yang mendesak.


Bagi masyarakat Sade, menenun bukan sekadar pekerjaan. Tradisi tersebut merupakan bagian dari identitas budaya sekaligus sumber penghasilan keluarga.


Kebakaran turut memusnahkan sejumlah alat tenun dan persediaan benang milik warga. Tanpa alat produksi, sebagian pengrajin harus menghentikan aktivitasnya.


Salah satunya adalah Inaq Al, pengrajin tenun tradisional Sade. Saat ini, ia kembali bekerja menggunakan alat tenun yang dipinjamkan dari kampung tetangga.


> “Alat tenun yang saya pakai sekarang ini pinjaman sementara dari kampung sebelah. Ya, dipakai dulu sembari menunggu ada rezeki dan bantuan untuk bisa beli alat tenun sendiri lagi,” ujar Inaq Al.


Bagi Inaq Al, alat tenun pinjaman tersebut menjadi jalan untuk kembali menghasilkan pendapatan. Namun, kebutuhan pengrajin tidak berhenti pada alat produksi.


Benang, bahan baku, dan modal awal usaha menjadi kebutuhan penting agar aktivitas ekonomi warga dapat berjalan kembali secara mandiri.



Selain kehilangan tempat tinggal, anak-anak Sade juga menghadapi dampak psikologis akibat bencana.


Berdasarkan asesmen lapangan Tim Relawan Nusantara, diperkirakan terdapat 135 hingga 145 anak dan balita yang turut terdampak.


Kelompok tersebut terdiri atas sekitar 20–30 balita usia 0–5 tahun, sekitar 60 anak sekolah dasar, sekitar 25 anak sekolah menengah pertama, serta sekitar 30 anak sekolah menengah atas.


Kebutuhan mereka tidak hanya berupa perlengkapan sekolah dan asupan nutrisi. Pendampingan psikososial, kegiatan trauma healing, serta ruang bermain dan belajar yang aman juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.


Anak-anak Sade perlu mendapatkan kesempatan untuk kembali belajar, bermain, dan tumbuh tanpa terus dibayangi oleh trauma bencana.


Sade dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang menjadi bagian penting dari identitas Lombok Tengah. Rumah adat, tradisi menenun, kesenian, dan kehidupan masyarakat merupakan daya tarik yang tidak dapat dipisahkan dari kawasan tersebut.


Kebakaran tidak hanya menghancurkan bangunan fisik. Sejumlah perlengkapan seni dan kebudayaan, termasuk alat musik tradisional, kentungan, gamelan, serta perlengkapan sanggar pertunjukan, turut terdampak.


Karena itu, pemulihan Sade membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Pembangunan rumah adat harus berjalan beriringan dengan pemulihan aktivitas ekonomi dan kebudayaan.


Pengadaan kembali alat tenun, bahan baku, alat musik tradisional, lumbung, serta artshop menjadi bagian penting agar masyarakat dapat kembali berkarya dan memperoleh penghasilan.


Jika pemulihan hanya berfokus pada bangunan, maka sebagian penting dari kehidupan Sade berisiko tertinggal.


Pada masa tanggap darurat, kebutuhan pangan, air bersih, pakaian, selimut, dan tempat tinggal sementara menjadi prioritas. Namun, memasuki tahap pemulihan dan rekonstruksi, kebutuhan masyarakat mulai berkembang.


Warga kini membutuhkan dukungan untuk menghidupkan kembali sumber penghasilan, pendidikan anak, kesehatan psikososial, serta aktivitas kebudayaan.


Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama masyarakat Sade. Warga bahu-membahu membersihkan puing, menata lingkungan, dan merancang pembangunan kembali ruang hidup mereka.


Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu proses tersebut berjalan secara berkelanjutan. Bantuan alat produksi, bahan baku, perlengkapan sekolah, serta fasilitas budaya dapat menjadi langkah nyata untuk mengembalikan kemandirian masyarakat.


Di atas puing-puing yang tersisa, masyarakat Sade sedang berusaha mengembalikan ruang hidup mereka.


Ketukan alat tenun yang kembali terdengar menjadi simbol bahwa kehidupan belum berhenti. Di tengah keterbatasan, warga tetap berusaha bekerja, merawat tradisi, dan membangun kembali masa depan keluarga.


Pemulihan Sade bukan hanya tentang mendirikan rumah yang terbakar. Ini adalah tentang mengembalikan martabat keluarga, memulihkan masa depan anak-anak, menghidupkan kembali roda ekonomi, dan menjaga agar warisan budaya Lombok Tengah tetap memiliki ruang untuk tumbuh.

×
Berita Terbaru Update