-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kasus Stunting Turun, Desa Sakra Selatan Wakili NTB dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik 2026

Selasa, 15 September 2026 | 19.09 WIB Last Updated 2026-09-15T11:09:29Z


LOMBOK TIMUR, LokalNews.id - Desa Sakra Selatan, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik Tahun 2026. Penilaian tersebut berkaitan dengan konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting.


Tahapan wawancara dilakukan secara virtual pada Selasa (15/9), setelah sebelumnya tim penilai melakukan pemeriksaan terhadap dokumen. Tim penilai berasal dari sejumlah lembaga, mulai dari Sekretariat Presiden hingga Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).


Kepala Desa Sakra Selatan Lalu Burhan, bersama jajaran mengikuti proses wawancara tersebut. Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya, selaku Ketua Tim Percepatan Pencegahan Penurunan Stunting (TP3S) Lombok Timur juga turut hadir.


Edwin didampingi Kepala Bappeda, Kepala DP3AKB, Pendamping Keluarga, PLKB hingga PKK.


Dalam kesempatan itu, Edwin menyampaikan apresiasi kepada pemerintah desa dan masyarakat Sakra Selatan yang telah membawa desa tersebut mewakili Lombok Timur dan NTB.


"Kami memberikan apresiasi kepada Kepala Desa, seluruh aparat desa, dan masyarakat Sakra Selatan atas capaian ini," kata Edwin.


Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting di Sakra Selatan menunjukkan adanya kerja bersama seluruh komponen masyarakat. Desa tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai Desa Cinta Statistik (Desa Cantik).


Edwin menilai ketersediaan data yang akurat menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan.


"Data yang akurat sangat penting dalam perencanaan pembangunan," ujarnya.


Desa Sakra Selatan, sebelumnya sempat berada di zona hitam kasus stunting. Pada 2024, tercatat sebanyak 63 kasus stunting di desa tersebut.


Angka itu kemudian turun menjadi 42 kasus pada 2025. Sementara hingga triwulan III 2026, kasus stunting tercatat sebanyak 29 orang.


Penurunan tersebut tidak terlepas dari berbagai program dan inovasi yang dilakukan pemerintah desa bersama masyarakat serta pemerintah daerah.


Salah satunya melalui Gerakan Tolak Merarik Kodek (Getak Mako) dan Percepatan Naikkan Gizi Keluargaku (Pangku).


Program tersebut juga diperkuat melalui gerakan orang tua asuh atau Genting yang dijalankan pemerintah kabupaten melalui pendampingan organisasi perangkat daerah (OPD) maupun badan usaha milik daerah (BUMD).


Desa Sakra Selatan juga menjalin kemitraan dengan SPPG Lombok Timur Sakra 3 dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat.


Dari sisi penganggaran, pemerintah desa mengalokasikan sekitar 40 persen APBDes untuk mendukung program terkait. Nilainya mencapai lebih dari Rp 460 juta.


Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk memberikan insentif kepada Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan kader Posyandu.


Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan (PSBLDP) Kemendes PDT Andrey Iksan Lubis, turut mengapresiasi kinerja Pemerintah Desa Sakra Selatan dan masyarakat.


Dia berharap keberhasilan Sakra Selatan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Lombok Timur.


"Kami berharap Lombok Timur memiliki banyak desa seperti Sakra Selatan," ujar Andrey.


Menurut Andrey, inovasi dan program yang dijalankan desa merupakan bagian penting dalam penanganan stunting. Namun, hal yang tidak kalah penting adalah tingginya partisipasi masyarakat.


Ia menilai keterlibatan masyarakat menjadi salah satu modal penting dalam pembangunan desa, termasuk dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting.


Dengan capaian tersebut, Desa Sakra Selatan kini menjadi wakil Lombok Timur sekaligus NTB dalam Penilaian Desa Berkinerja Baik Tahun 2026. (LN)

×
Berita Terbaru Update